Ditulis oleh: Affan, S.Pd, M.Pd (Kepala Sekolah SDIT TQ An Nahl)
Pembahasan ini merupakan lanjutan penjelasan Daurah Tarbawi bagi segenap civitas akademika Yayasan Al Quran An Nahl yang diselenggarakan di SDIT Tahfidzul Qur'an An-Nahl, dengan pemateri Syaikh Utsman Heidar bin Seif.
Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada sejauh mana para pendidik dan pengelola memahami makna siswa, guru dan sekolah. Serta menerapkan prinsip-prinsip tarbiyah yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih.
Beliau juga menegaskan bahwa seorang guru dalam Islam bukanlah sekadar pengajar yang menyampaikan materi pelajaran di ruang kelas. Guru adalah murabbi (pendidik), mu'allim (pengajar), muaddib (penanam adab), sekaligus pewaris tugas para nabi dalam membimbing manusia menuju hidayah Allah. Oleh karena itu, setiap guru memikul amanah yang sangat besar, yaitu membentuk generasi yang bertauhid, berakhlak mulia, berilmu, beramal saleh, dan senantiasa takut kepada Allah SWT.
Melalui daurah tersebut, Syaikh Utsman Heidar bin Seif mengingatkan bahwa seluruh aktivitas pendidikan hendaknya berorientasi pada tercapainya tujuan utama pendidikan Islam, yaitu melahirkan generasi yang semakin mengenal Allah, semakin mencintai Al-Qur'an, semakin benar ibadahnya, semakin mulia akhlaknya, serta semakin besar rasa khasyyah-nya (takut) kepada Allah.
Dengan demikian, sekolah bukan hanya menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi menjadi tempat membina hati, memperbaiki akhlak dan menumbuhkan ketakwaan kepada Allah. Untuk mewujudkan impian dan tujuan mulia nan besar itu marilah kita memahami lebih dalam tentang makna siswa adalah pasien, guru adalah dokter dan sekolah adalah rumah sehat.
1. Murid adalah seperti Pasien (المُتَعَلِّمُ كَالْمَرِيضِ)
Allah Ta'ālā berfirman:
وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ ۚ قُل لَّسْتُ عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ
"Dan kaummu mendustakannya (azab) padahal
(azab) itu benar adanya. Katakanlah (Muhammad), Aku ini bukanlah penanggung jawab kamu." (QS. Al-An'am: 66)
Menurut tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir dan Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, ayat ini menjelaskan bahwa tugas Rasulullah SAW adalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksa manusia menerima hidayah. Hidayah berada di tangan Allah, sedangkan manusia hanya diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah.
Dalam dunia pendidikan, guru memiliki kedudukan yang sama dalam hal amanah. Guru berkewajiban membimbing, menasihati, mengajar, dan memperbaiki, tetapi tidak mampu memberikan hidayah. Hidayah adalah hak Allah semata.
Murid diibaratkan sebagai pasien karena setiap manusia memiliki penyakit hati yang membutuhkan pengobatan.
Allah berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
"Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya." (QS. Al-Baqarah: 10)
Penyakit tersebut berupa syirik, riya, ujub, sombong, malas beribadah, cinta dunia, dengki, dusta, dan berbagai penyakit hati lainnya. Sebagaimana pasien membutuhkan dokter, murid membutuhkan guru yang membimbingnya menuju kesehatan iman.
Pasien tidak boleh dimarahi ketika sakit, tidak boleh dihukum tanpa diagnosis. Seorang dokter harus memahami bahwa pasien harus dipahami penyebab penyakitnya baru kemudian memberikan resep obat.
Begitu pula murid, ketika seorang murid malas, mungkin ia kehilangan motivasi. Ketika ia nakal, mungkin ia kurang perhatian. Ketika ia membangkang, mungkin ia belum memahami tujuan hidupnya. Oleh sebab itu, seorang Guru harus mencari akar masalah sebelum memberikan solusi.
2. Guru adalah Dokter (المعلم كالطبيب)
Dokter tidak membenci pasien karena sakit. Sebaliknya, ia mencari penyebab penyakit, memberikan diagnosis, menentukan terapi, kemudian memantau perkembangan pasien.
Demikian pula guru. Guru adalah penyembuh hati dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah." (QS. Al-Jumu'ah: 2)
Perhatikan urutannya: Membacakan wahyu, Menyucikan jiwa, Mengajarkan ilmu.
Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam mendahulukan Tazkiyatun Nafs sebelum penguasaan ilmu.
Guru yang tidak Ikhlas pada hakikatnya adalah Pasien, sebab guru yang mengajar demi gaji, jabatan, popularitas, atau pujian manusia berarti masih memiliki penyakit hati yang juga perlu diobati. Guru yang ikhlas akan mengajar karena mengharap ridha Allah, bukan sekadar penghargaan manusia (gaji). Sebelum mengobati orang lain, hendaknya guru harus terlebih dahulu memperbaiki hatinya dengan keikhlasan, dzikir, doa dan keteladanan.
3. Sekolah adalah Rumah Sehat (المدرسة كالبيت الصحي)
Sekolah dalam Pendidikan Islam, bukan sekadar tempat mencari ijazah. Sekolah bukanlah pabrik yang menghasilkan nilai akademik, apalagi perusahaan yang hanya mengejar keuntungan.
Sekolah adalah tempat penyembuhan jiwa. Karena itu sekolah Islam harus dipenuhi dengan suasana yang menyehatkan iman. Rumah sehat memiliki udara yang bersih. Sekolah Islam juga harus memiliki udara ruhani yang bersih.
Rumah sehat menjaga kebersihanbadan, sekolah Islam menjaga kebersihan hati. Rumah sehat menyediakan makanan bergizi, sekolah Islam menyediakan makanan ruhani berupa Al-Qur'an, dzikir, doa, ilmu syar'i dan keteladanan.
Sekolah yang sehat menurut Islam memiliki ciri-ciri berikut:
1. Shalat berjamaah menjadi budaya.
2. Al-Qur'an dibaca setiap hari.
3. Guru menjadi teladan sebelum menjadi pengajar.
4. Murid saling menghormati.
5. Adab lebih didahulukan daripada ilmu.
6. Lingkungan bersih dari maksiat.
7. Hubungan guru dan murid dipenuhi kasih sayang.
8. Orang tua dilibatkan dalam pendidikan dan pembinaan.
Konsep ini merupakan sebuah analogi pendidikan yang menggambarkan bahwa setiap peserta didik datang dengan kondisi hati yang membutuhkan pembinaan. Setiap guru bertugas mendiagnosis dan mengobati penyakit hati melalui ilmu, keteladanan dan nasihat. Sedangkan sekolah harus menjadi lingkungan yang sehat secara ruhani sehingga mampu melahirkan generasi yang saleh, berilmu, dan bertakwa.
Sebagai penutup, penulis menukilkan sebuah ayat dalam Al-Qur'an Surat Yunus ayat 58 yang disampaikan oleh Syaikh Utsman Heidar bin Seif;
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا ۖ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58).
Ayat ini turun sebagai pengarahan Allah kepada kaum mukminin agar ukuran kebahagiaan mereka bukanlah harta, jabatan, atau kemewahan dunia, melainkan karunia terbesar berupa petunjuk Agama Islam dan Al-Qur'an sebagai mana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya terkait makna Karunia Allah (بِفَضْلِ اللّٰهِ) dan Rahmat-Nya (وَبِرَحْمَتِهِ).
Semoga Allah menjadikan kita semua, para guru, orang tua, dan peserta didik termasuk orang-orang yang bergembira dengan nikmat iman, Islam, Al-Qur'an, dan ilmu yang bermanfaat, serta menjadikannya sebagai bekal menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
________________
Mapak Indah, Ditulis pada hari Jum'at, 3 Juli 2026
Pada pukul 10.30 sampai 11.14
@affanhyasin





