Antara Harapan Besar dan Perhatian yang Tersisa

Oleh: Affan, S.Pd, M.Pd (Kepala Sekolah SDIT Tahfidzul Qur'an An Nahl)

Kerap kali orang tua bermimpi besar tentang masa depan anak-anaknya. Mereka ingin buah hatinya menjadi orang yang berhasil, dihormati dan memberi manfaat bagi banyak orang. Dan kelak menjadi pribadi yang shalih, penghafal Qur'an, kuat imannya, luas ilmunya dan lembut hatinya.

Namun tanpa disadari, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, apakah jalan yang ditempuh sudah benar-benar mengarah ke sana?

Hari ini, anak-anak tumbuh di tengah dunia yang penuh distraksi. Perhatian mereka telah teralihkan. Waktu mereka tersita oleh hal-hal yang sering kali menjadikannya lalai kepada Penciptanya. Sementara hafalan Al-Qur'an, terus menunggu di sela-sela waktu yang tersisa.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Hadis ini tidak hanya berbicara tentang keutamaan, tetapi juga tentang prioritas hidup. Menjadi yang terbaik bukanlah dengan dunia yang berlimpah, tetapi dengan kedekatan pada Al-Qur'an, belajar dan mengajarkannya.

Generasi terbaik umat ini tidak dibesarkan dengan istilah, kalau sempat baru mengaji. Mereka tidak menunggu besar untuk serius belajar Al-Qur'an. Apalagi menjadikan Al-Qur'an dan pendidikan karakter hanya sebatas pelengkap bukan hal yang diprioritaskan.

Hari ini banyak yang merasa bangga ketika anaknya cepat memahami pelajaran duniawi. Merasa bahagia saat mereka berprestasi di sekolah. Bahkan ada yang selelau menuntutnya harus juara. 

Memang tidak salah, karena itu naluriah. Namun, pernahkah merasa gelisah ketika sehari berlalu tanpa Al-Qur'an di lisan mereka? Pernahkah merasa kehilangan ketika mereka lebih lancar menyebut hal-hal dunia daripada ayat-ayat Rabbnya? Apalagi istilah-istilah trend yang ternyata Islam melarangnya. 

Kondisi inilah yang membuat penulis sebagai seorang guru Al-Quran dan konsultan pendidikan merasa sangat prihatin. Lantaran melihat anak-anak yang cerdas intelektual, kuat daya ingatnya hanya mempelajari hal-hal yang belum perlu mereka butuhkan di usianya. 

Orang tua yang memiliki anak yang cerdas intelektual serta kuat hafalan, sebisa mungkin mengarahkannya untuk menghafalkan Al-Qur'an. Terutama di usia produktif mereka.

Salah satu upayanya adalah memilihkan mereka tempat pendidikan yang memprioritaskan pembelajaran Al-Quran tetapi tetap mempelajari hal-hal keduniawian. Mempelajari adab akhlaq yang mulia agar kelak mereka memuliakan orang tuanya. 

Orang tua yang cerdas tentu senantiasa memikirkan agar kelak anaknya tak hanya sukses di dunia, tapi juga mampu memberikan syafa'at bagi kedua orang tuanya. 

Al-Qur'an adalah Inti Hidup Para Salaf

Lihatlah bagaimana para salaf mendidik anak-anak mereka. Mereka menanamkan Al-Qur'an sejak dini. Sejak usia produktif mereka dalam menghafal dan daya ingatnya kuat sebelum anak-anak mengenal dunia lebih jauh. Ibarat kertas putih, goresan tinta pertamanya adalah kalamullah, bukan yang lain. Mereka memahami bahwa hati yang sejak kecil dipenuhi Al-Qur'an akan lebih mudah dijaga, lebih kuat menghadapi godaan, dan lebih kokoh dalam iman.

Ibnu Abbas رضي الله عنهما pernah berkata:

"Sesungguhnya orang yang tidak memiliki hafalan Al-Qur'an di dalam hatinya, maka ia seperti rumah yang kosong."

Bayangkan, rumah yang kosong, tidak ada cahaya, tidak ada kehidupan. Itulah gambaran hati yang jauh dari Al-Qur'an.

Imam Malik رحمه الله pernah berkata kepada seorang ibu yang membawa anaknya untuk belajar, "Pergilah kepada Rabi'ah, pelajarilah adabnya sebelum ilmunya."

Ayah dan bunda yang mulia...

Suatu hari nanti, kita mungkin memiliki lebih banyak waktu. Namun anak-anak kita sudah dewasa. Kesempatan emas itu telah berlalu. Jangan sampai kita sibuk membangun masa depan dunia anak, tetapi lalai membangun akhiratnya. 

Jangan sampai kita mengorbankan waktu terbaik anak untuk hal-hal yang fana, sementara Al-Qur'an hanya mendapatkan sisanya saja. Karena sesungguhnya, Al-Qur'an itulah yang akan menemani mereka di saat tidak ada lagi yang bisa menolong.

Di saat gelapnya kubur.
Di saat dahsyatnya hari kiamat.
Di saat setiap manusia mencari keselamatan dirinya sendiri.

Al-Qur'an akan datang sebagai penolong bagi orang yang dekat dengannya.

Dan Allah sudah mengingatkan:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sampai kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai." (QS. Ali Imran: 92)

Maka, Ayah dan Bunda…

Jika hari ini kita masih memberikan sisa waktu untuk Al-Qur'an, ubahlah. Jika selama ini kita menunggu waktu luang, maka mulai hari ini, luangkan waktu itu untuk Al-Qur'an.

Duduklah bersama anak-anak kita, bukan sekadar menyuruh, tetapi menemani. Bacalah bersama mereka, bukan hanya mengoreksi, tetapi mencontohkan.

Cintailah Al-Qur'an di hadapan mereka, agar mereka belajar mencintainya tanpa dipaksa.
Karena anak-anak kita tidak akan mengingat semua yang kita katakan.

Tetapi mereka akan selalu mengingat apa yang kita lakukan. Dan suatu hari nanti, walaupun suatu ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang menguasai pengetahuan duniawi tetapi selalu dekat dengan Al-Qur'an kita akan tersenyum dalam syukur karena kita tidak lagi memberikan sisa tetapi kita telah memberikan yang terbaik.

Allah SWT berfirman:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan ini adalah Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS. Al-An'am: 155)

Al-Qur'an adalah sumber keberkahan,  Ia bukan pelengkap kehidupan, tetapi inti yang menuntun arah kehidupan. Jika kita meyakini Al-Qur'an sebagai petunjuk, mengapa kita hanya menyisakan waktu untuknya?

Semoga anda dan saya termasuk orang tua yang menginginkan keberkahan dan syafaat Al-Qur'an di Yaumil Akhir kelak dengan menjadikan prioritas dan totalitas sebagai usaha meraih kesempurnaan dari Al-Quran.