Oleh: Affan, S.Pd, M.Pd (Kepala Sekolah SDIT Tahfidzul Quran An Nahl)
Ayah Bunda...
Di zaman ini, jalan menuju ilmu semakin terbuka. Majelis-majelis ilmu tersebar luas. Lembaga pendidikan Al-Qur'an hadir di berbagai tempat, mulai dari pelosok perkampungan hingga perkotaan. Mulai dari sekolah terpadu hingga Ma'had. Bahkan rumah Qur'an sudah tersedia di banyak tempat. Para guru siap membimbing dengan kesungguhan.
Dan sekarang banyak juga lembaga pendidikan formal yang menerapkan sistem boarding maupun full day. Ini semua merupakan kemudahan dari Allah untuk semua orang tua kaum muslimin zaman ini agar dekat dengan Al-Qur'an dan nilai keislaman.
Namun di balik kemudahan itu, tetap ada satu ujian besar yang tidak ringan, keikhlasan hati orang tua untuk melepas, mengantar dan mempercayakan anaknya menempuh jalan ilmu.
Ayah Bunda...
Sungguh, mengantarkan anak menuju majelis ilmu bukan sekadar rutinitas aktivitas fisik yang dilakukan begitu saja. Ia adalah amal hati dan bentuk tawakal. Sebuah bukti kasih sayang yang diwariskan kepada generasi penerus kita agar tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Qur'an, mencintai orang tuanya, juga agar mereka tumbuh memuliakan guru-gurunya.
Ketika kita mengantarkan buah hati kita ke sekolah atau ke majelis ilmu, biasakan membisikkan nasehat dan doa penguat semangat mereka dalam menuntut ilmu minimal mengucapkan; Nak… hari ini aku antarkan engkau dengan Bismillah.
Bukan karena aku tak mencintaimu, justru karena cintaku kepadamu, aku ingin engkau dekat dengan kalam Rabb-mu. Aku ingin engkau tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan Iman. Aku ingin engkau mengenal jalan yang lurus sebelum dunia memperkenalkan jalan-jalan yang menyesatkan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur'an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thaha: 114).
Ayat ini merupakan teguran, larangan Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar tidak tergesa-gesa dalam membaca atau menghafal wahyu ketika Jibril AS menyampaikannya.
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menggerakkan lisannya dengan cepat karena khawatir lupa. Maka Allah menurunkan bimbingan ini agar beliau tenang, karena Allah sendiri yang akan menjaganya dan memberikan kemudahan dalam menghafal Al-Qur'an.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17).
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan: ini adalah adab dalam menerima ilmu, tidak tergesa-gesa sebelum sempurna pemahamannya. Sebagaimana kaidah dalam menuntut ilmu: _al-tatsabbut_ (kehati-hatian) sebelum berbicara atau menyimpulkan hendaknya mendengarkan dengan baik, memahami secara utuh dan tidak memotong penjelasan guru.
Ibroh terakhir dalam Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW agar meminta tambahan ilmu dikarenakan kemuliaan ilmu dibandingkan amal-amal lainnya, bukan hanya doa bagi penuntut ilmu tetapi juga seruan bagi orang tua: bahwa ilmu adalah kebutuhan sepanjang hayat, dan menanamkannya sejak dini adalah amanah yang besar.
Ayah Bunda…
Para ulama terdahulu telah memberikan teladan yang agung. Mereka bukan hanya semangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga dibesarkan oleh orang tua yang memahami nilai ilmu.
Mari kita sama-sama belajar dari Ibunda Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, beliau rela membawa anaknya dari Gaza ke Makkah dalam keadaan serba kekurangan, hanya agar anaknya tumbuh di lingkungan ilmu. Ia tidak berkata,“Tunggu engkau besar, baru Ibunda antarkan ke majelis ilmu (makkah)” tetapi ia memahami bahwa waktu terbaik menanam adalah sejak dini.
Begitu pula ibu dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Di usia yang masih sangat muda, ia telah membangunkan anaknya di waktu malam, menemaninya berjalan dalam gelap menuju majelis ilmu. Ia tidak menghalangi, tidak menunda, tidak melemahkan semangatnya. Para Ibu generasi salaf bukan hanya mencurahkan segala waktu dan tenaga nya untuk anaknya tetapi yang lebih penting mereka tidak pernah absen mendoakan anak-anak nya agar dimudahkan segala urusan mereka di majelis ilmu, mendoakan kemudahan menerima nasehat, ilmu serta memudahkan mereka menghafal Al-Qur'an.
Jadi, ketika kita antarkan anak anak di depan gerbang sekolah, bisikanlah doa tulus "semoga Allah memberikan kemudahan bagimu untuk menghafal Al-Qur'an dan menerima nasehat ilmu dari guru gurumu nak" .
_Inilah jalan Cinta yang sesungguhnya: Cinta yang mengantarkan kepada Allah._
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim).
Maka wahai para orang tua, ketika engkau mengantarkan anakmu ke sekolah tempat mereka menimba ilmu, hakikatnya engkau sedang mengantarkan mereka menuju jalan menuju surga.
Ingatkann kepada anak-anak kita, ketahuilah nak, setiap langkahmu menuju sekolah atau majelis ilmu akan dicatat sebagai kebaikan. Ketika engkau mendapatkan sebuah kebaikan maka ayah bunda juga akan mendapatkan kebaikan dan Allah tidak akan mengurangi kebaikan yang engkau dapatkan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Ayah Bunda, anak-anak yang kita antarkan ke sekolah merupakan aset berharga yang kita tanam kelak kita akan memanen hasilnya dua sekaligus anak-anak mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan anak yang Sholeh yang kelak akan mendoakan orang tuanya bahkan sadaqah Jariyah dari waktu, uang, tenaga yang kita curahkan untuk mengantarkan mereka juga akan kita panen.
Ayah dan ibumu mungkin tidak mampu meninggalkan harta yang melimpah, tetapi kami ingin meninggalkan doa yang terus mengalir melalui dirimu. Kami ingin engkau menjadi anak shalih yang mengenal Rabb-nya, mencintai Al-Qur'an, dan membawa cahaya bagi sekitarmu.
Seorang ulama salaf berkata:
“Didiklah anakmu, karena engkau akan ditanya tentangnya. Apa yang engkau ajarkan kepadanya? Dan apa yang engkau wariskan dalam hatinya?”
“Ya Allah, jagalah anak kami,
Jadikan ia penyejuk mata kami,
Jadikan ia penghafal Kitab-Mu,
Aku antarkan engkau dengan Bismillah.
Aku titipkan engkau kepada Allah, Dzat yang tidak pernah lalai menjaga.
Semoga langkah kecilmu hari ini, menjadi jejak besar menuju syurga.





