Mendidik Anak Dengan Menyentuh Hati, Menyembuhkan Penyakitnya Dengan Cahaya Al Quran

Oleh: Affan, S.Pd, M.Pd (Kepala Sekolah SDIT Tahfidzul Qur'an An Nahl)

Ayah-Bunda, sering kali kita mendapatkan ujian kesabaran lantaran anak sulit diatur. Padahal orang tua ingin anaknya diarahkan dan dididik agar tumbuh dengan cahaya Qur'an dan ketaatan. Mungkin karena memang mereka belum tersentuh hatinya untuk menerima nasehat orang tuanya.

Ayah-Bunda, mari mencoba pola yang sering digunakan oleh para ulama Islam dalam menghadapi anak-anak yang sulit diatur. Amr bil qulub, begitu mereka menyebutnya. Sebuah pendekatan yang memerintah hati dengan hati. Sehingga kalbunya tergerak sendiri untuk beramal. 

Dalam kajian Tazkiah tun nafs, Amr bil qulub sering digunakan dalam menghadapi Amrād al qulub atau penyakit hati. Salah satunya berupa kemalasan yang terkadang sulit diobati. Bukankah anak-anak yang sulit dididik, diatur dan diarahkan itu ada permasalahan dalam hatinya? Jadi masalah utamanya bukan semata karena dia hiper aktif atau tidak bisa diam.

Perlu diketahui bahwa permasalahan hati bisa diobati dengan pendekatan hati pula. Dan harus disertai dengan do'a. Karena do'a orang tua tak ada penghalang buat anaknya. 

Pada akhirnya, membimbing anak dengan bimbingan Al-Qur'an bukan sekadar tentang seberapa banyak ayat yang mampu diingat. Tetapi tentang bagaimana hati anak tumbuh bersama Al-Qur'an itu sendiri. Akan ada hari-hari di mana anak semangat dan ada saat di mana ia lelah, bosan dan bahkan ingin berhenti. Di situlah kesabaran orang tua benar-benar diuji, bukan untuk menekan, tetapi untuk tetap membersamai dengan kelembutan dan harapan. 

Orang tua perlu menyadari bahwa setiap huruf yang dihafal anak adalah hasil dari kesabaran yang ditanam dan do'a yang dipanjatkan. Jangan lelah mengulang, jangan bosan menguatkan dan jangan berhenti mendo'akan. Karena hati anak tidak hanya dibentuk oleh usaha, tetapi juga oleh do'a yang terus mengalir, siang dan malam.

Bisa jadi, hafalan anak belum sempurna hari ini. Namun selama orang tua terus sabar membimbing dan melazimi do'a, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar. Anak yang mencintai dan hidup bersama Al-Qur'an, kelak menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya. 

Maka tetaplah bertahan dalam sabar dan jangan pernah lepas dari do'a. Karena dari situlah lahir generasi Qur'ani yang bukan hanya kuat hafalannya, tetapi juga indah hatinya.

Mendidik anak adalah perjalanan panjang yang tidak hanya menyentuh akal yang melahirkan kepintaran semata, tetapi juga harusmenghunjam ke lubuk hatinya. Ketika hati anak sudah hidup dengan cahaya Al-Qur'an, maka kebaikan akan mengalir dengan sendirinya.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang bersih hatinya, kuat imannya, dan istiqamah dalam kebaikan. Aamiin.